Dengan dua tokoh penyebar
Islam itu, wajar saja kisah dan artefak kebudayaan Islam bisa dijumpai di
banyak tempat di Kudus. Wilayah itu pun akhirnya mendapat sebutan yang paling
kuat di antara citra lain yang melekat yaitu Kota Santri. Purbatjaraka, ahli
antropologi nusantara mengatakan, di seluruh Jawa hanya ada satu nama kota yang
diambil dari bahasa Arab, yaitu Kudus (dari kata Al Quds yang berarti “tempat
suci”). Jejak-jejak sejarah dakwah para wali beserta peninggalannya itu sampai
sekarang dapat kita telusuri baik untuk kepentingan religi maupun sejarah
budaya.
Pembicaraan tentang Kota Kudus
tidak akan pernah terlepas dari sosok Sunan Kudus yang melegenda. Beliaulah
yang menata Kudus dan perkembangannya. Pada beberapa catatan sejarah, sebelum
kemunculan Sunan Kudus, pendakwah Islam sudah ada, yang lebih dikenal dengan
nama Kyai Telingsing. Kyai Telingsing adalah orang Cina yang bernama asli The
Ling Sing. Pembahasan Kyai Telingsing semoga bisa saya tuliskan kemudian.
Mengenai asal usul nama Kudus
menurut legenda yang hidup dikalangan masyarakat setempat ialah, dahulu kala
Ja’far Shoddiq Muda (Sunan Kudus) melaksanakan ibadah haji sambil menuntut ilmu
di Tanah Arab dari Mekkah Sampai Yerusalem / Palestina, kemudian beliau pun
sempat menetap pula di sana. Ketika itu disana sedang berjangkit wabah penyakit.
Berkat usaha Ja’far Shoddiq muda, wabah tersebut dapat diberantas. Atas
jasa-jasanya, maka Amir di Palestina memberikan hadiah berupa Ijazah/Prasasti.
Ijazah tersebut tertulis pada batu yang ditulis dengan huruf arab kuno, dan
sekarang masih utuh terdapat di atas Mihrab Masjid Menara Kudus.
Setelah pulang ke Jawa, Ja’far
Shoddiq mendirikan Masjid di daerah Kudus pada tahun 1549 M. Semula diberi nama
Al Manar atau Masjid Al Aqsho, terinspirasi dari nama Masjid di Yerusalem yang
bernama Masjidil Aqsho. Kota di Yerusalem dimana berdiri Masjid Al Aqsho
disebut Baitul Maqdis atau Al-Quds. Dari kata Al-Quds tersebut kemudian lahir
kata Kudus, yang kemudian digunakan sebagai nama kota Kudus sekarang. Dan
gunung di sebelah utara Kudus dinamakan Gunung Muria, seperti Jabal (gunung
-Arab) Muriyah di Yerusalem / Palestina.
Sejarah tentang hari jadi Kota
Kudus di tetapkan pada hari senin pahing 1 Ramadhan 956 H atau tanggal 23
September 1549 M dan diatur dalam Peraturan Daerah (PERDA) No. 11 tahun 1990
tentang hari jadi Kudus yang di terbitkan tanggal 6 Juli 1990 yaitu pada era
Bupati Kol. Soedarsono. Kemudian PERDA tersebut di sahkan oleh Gubernur KDH
Tingkat 1 Jawa Tengah Nomor: 1883/278/1990 tanggal 7 september 1990.


6 komentar:
waahh deg,,
baguss
ok......
wish.......
apiek22
good2
Posting Komentar